Kamis, 03 Januari 2013

Di Bahumu



Beban ini sungguh membuatku tak berdaya, beban ini membuat tubuhku tak mampu lagi menopang beratnya masalah yang aku alami, beban ini membuat hatiku seolah-olah remuk secara perlahan, beban ini membuat otakku tak sanggup berpikir jalan keluar dari masalah ini, sungguh ini sangat menyakitkan.
Bisakah kau sedikit membantu meringankan beban beratku ini? Maukah kau berbagi beban ini denganku? Akankah kau sanggup menopang masalah ini bersamaku? Dapatkah kau mendengar dan memberiku masukan untuk masalah ini?
Aku tidak butuh banyak hal, aku hanya butuh bahumu, bahumu untuk aku bersandar dan menenangkan pikiran sejenak. Bisakah aku menyandarkan kepala ini dibahu kananmu sebentar saja?

Kesakitan Tak Berujung



A: udahlah jangan menangisi yang tak perlu kau tangisi, kau ditakdirkan bukan untuk dia yang selalu memberikan kesakitan seperti ini padamu, kau tak layak mendapatkan itu.
B: aku berusaha meredam air mata ini, tapi dia selalu mengalir tanpa ku pinta, mungkin ini yang disebut sakit hati.
A: sakit hati akan selalu menjadi temanmu apabila kau masih mengingat kesakita yang tak seharusnya kau ingat.
B: aku senang mengalami sakit hati ini, karena dengan seperti ini aku selalu mengingat dia.
A: kau bodoh, mau-maunya menderita sakit yang tidak ada obatnya.
B: aku memang bodoh, bodoh karena mau memelihara sakit ini, bodoh karena tidak bisa mengibaskan perasaan ini.
A: kalau bukannya bodoh, kau bukannya tidak bisa menutupi luka itu, hanya saja kau belum mau menutupi itu.

Lihatlah ke Arahku



Tak terhitung berapa kali aku mencoba membuatmu melihatku, dan tak terhitung berapa kali pula kau selalu mengabaikanku. Ada rasa kecewa yang mendera di hati, tapi aku berusaha memusnahkannya dan mencoba memancingmu kembali dengan berbagai cara yang sedang tersusun di otakku.
 Aku mencoba mendekati dengan bertanya sesuatu yang biasa saja, dimulai dengan biodata dan berbagai kesukaan yang kau anggap sebagai pertanyaan bodoh. Lalu aku mencoba mendekatimu secara perlahan, dimulai dengan memberikan perhatian-perhatian kecil yang mungkin kau anggap sebagai kalimat yang tidak akan kau tanggapi .
Kerja kerasku tak berhenti sampai disini, ketika kau sudah mulai membuka hati untukku, aku biarkan kita saling menyelami satu sama lain, saling dekat dan bertukar pengalaman hidup. Sampai dibatas perkenalan kita ternyata tak sesuai dengan harapku, ternyata kau hanya menganggapku sebagai ‘teman curhat’ yang asik diajak bicara, bukan ‘sesorang’ yang berada didalam hatimu.
Lagi-lagi aku mengalami kekecewaan untuk kesekian kalinya, ternyata usahaku sia-sia, ternyata engkau masih tak melihat ke arahku sebagai ‘seseorang yang selalu merindukanmu dan menyayangimu dalam diam’

Mati Rasa



Ketakutan yang selama ini ku rasakan ternyata terbukti, aku mengalami fase kritis hati yang dinamakan mati rasa, mati rasa akan cinta dan segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Rasanya tak ingin lagi mengenal cinta, karena bagiku cinta adalah aura malapetaka.  Malapetaka seperti apa? Seperti rasa kehilangan yang mendalam dan rasa sakit berkepanjangan yang sangat sulit untuk disembuhkan, tidak ada obatnya, obatnya Cuma kamu, tapi kamu.. ah sudahlah :3
Mati rasa terjadi karena adanya goresan luka di hati yang menyebabkan seseorang sakit, rasa sakit itu tidak mau ia sembuhkan, ia cenderung membiarkan rasa sakit itu menggerogoti hatinya, karena sering dan sudah terbiasa digerogoti akhirnya timbul rasa yang disebut mati rasa, tidak bisa merasakan apapun, hambar.

Rindu di Batas Waktu



           Hujan semakin menampakkan kesedihannya ketika ia sukses menurunkan ribuan titik-titik hujan dengan deras rumahku yang berada dipinggir jalan, angin juga tidak ingin kalah dengan hujan, ia juga sukses membuat seisi rumah diselimuti rasa dingin hingga merasuk kedalam pori-pori kulitku. Ah, malam yang panjang, pikirku. Dengan situasi cuaca yang seperti ini membuat organ dalam;perutku menjadi tidak bersahabat, ia menjerit-jerit meminta sesuap atau lebih untuk bisa menetralisir keadaan, aku membuka kulkas putih berpintu 2, tidak ada apapun, aku mencoba membuka tudung saji rotan berbentuk lingkaran, tidak ada apapun juga.
Aku putuskan mengurungkan niat dan kembali ke surgaku, yaitu kamarku. Aku duduk menepi di pinggir kasur sambil memandang jendela yang aku sibakkan tirainya agar bisa melihat rintihan air hujan yang turun, aku menghirup udara itu, aah harum air hujan, sangat dingin namun menenangkan jiwa. Aku menerawang jauh di angan-angan ku ketika saat itu aku dan kamu sedang berteduh dibawah pohon berbatang besar berwarna kekuningan yang mempunyai dedaunan yang rimbun dan hijau, kita sama-sama berada diatas motor dan engkau menggunakan kaos abu-abu bergaris vertical dengan celana jeans biru pekat serta sepatu toms berwarna coklat, sedangkan aku memakai kemeja bermotif bunga kecil dengan balutan warna coklat krem serta dipadukan dengan jilbab coklat dan jeans biru langit serta sepatu slop berpita ungu.
“hujannya semakin deras, bagaimana bisa kita kembali kerumah?” katanya. “kita tunggu saja sampai reda, mungkin sebentar lagi, bersabarlah” kataku. “apa kau kedinginan? Maaf aku tidak membawa jaket untukmu, dan maaf telah membuatmu basah karena acara jalan-jalan kita, aku menyesal” ungkapnya. “mengapa minta maaf? Kau tidak bersalah, dan selama aku bersamamu itu sudah cukup membuatku hangat” kataku. Ia melihat dan tersenyum kepadaku sambil menggenggam tanganku, senyum yang sampai saat ini masih membekas dihatiku, senyum yang selalu aku rindukan, senyum yang selalu membuatku utuh ketika bersamanya;dulu.